analisis input output

ANALISIS INPUT-OUTPUT

Perencanaan pembangunan wilayah yang selama ini dilakukan, masih bersifat parsial dan belum dapat mendeteksi bagaimana pengaruh investasi suatu sektor terhadap struktur perekonomian suatu wilayah. Hal ini yang menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan perencanaan, untuk itu diperlukan suatu model analisis yang dapat mengintegrasikan perencanaan pembangunan suatu wilayah.
Ada beberapa model pendekatan teori perencanaan pembangunan wilayah, mulai dari teori basis ekonomi (economic base theory) sampai pendekatan yang lebih rumit yaitu teori pengganda perdagangan antar wilayah analisis input-output. Kesemua model pendekatan pada dasarnya memandang tata ruang sebagai satu kesatuan yang terintegrasi. Untuk keperluan perencanaan dan evaluasi hasil-hasil pembangunan yang bersifat menyeluruh baik skala nasional maupun skala yang lebih kecil (tingkat kabupaten), model pendekatan perencanaan pembangunan wilayah dengan Model Analisis Input-Output.
Azis (1994), menyatakan bahwa keampuhan model Input-Output menyangkut kemampuannya untuk mengukur keterkaitan antar sektor. Analisis keterkaitan tidak hanya terbatas untuk nilai produksi, dengan memanfaatkan koefisien tenaga kerja maka dapat dihitung kemampuan suatu sektor untuk mengabsorbsi tenaga kerja (dampak langsung). Mengingat pertumbuhan sektor tersebut juga mendorong pertumbuhan sektor lain, maka pada gilirannya kemampuan mengabsorbsi tenaga kerja di sektor lain ikut bertambah. Dampak tidak langsung ini juga dapat dihitung melalui tabel input-output.
Selanjutnya, model input-output dapat menunjukkan sektor mana yang seharusnya diprioritaskan, sehingga sektor ini dapat menarik sektor-sektor yang lain dan akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Di samping itu penggunaan tabel input-output mempunyai keunggulan analisis dalam perencanaan pembangunan secara simultan dan sangat menonjolkan hubungan dan keterkaitan antar sektor dalam perekonomian (BPS, 1995a). Dengan tabel input-output, dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan suatu sektor terhadap pertumbuhan ekonomi regional dan sektoral, misalnya analisis keterkaitan antar sektor (backward and forward linkage analysis), analisis dampak pengganda (multiplier effect analysis), yang sangat penting dalam perencanaan sektoral.
Penyusunan model input-output ini harus memenuhi tiga asumsi, yaitu: (1) asumsi homogenitas (suatu sektor memproduksi suatu output tunggal dengan struktur input tunggal, dan tidak ada subtitusi otomatis antara berbagai sektor), (2) asumsi proporsionalitas (dalam proses produksi hubungan antara input dengan output merupakan fungsi linear), (3) asumsi aditivitas (efek total pelaksanaan produksi di berbagai sektor dihasilkan oleh masing-masing sektor secara terpisah). Dengan adanya asumsi-asumsi tersebut, model input-output bersifat terbuka dan statis, artinya rasio input-output tetap konstan sepanjang periode analisis. Produsen tidak dapat menyesuaikan perubahan-perubahan inputnya atau mengubah proses produksi. Asumsi tersebut juga mengisyaratkan penolakan adanya pengaruh perubahan teknologi ataupun produktivitas. Walaupun mengandung keterbatasan, model input-output tetap merupakan alat analisis ekonomi yang lengkap dan komprehensif (BPS, 1995a).
Penelitian ini memperkirakan peranan dan kontribusi dari sub-sektor perkebunan khususnya komoditas tembakau terhadap perekonomian Kabupaten Jember, dengan menggunakan pendekatan perencanaan pembangunan wilayah. Pendekatan ini berusaha untuk menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi terhadap suatu wilayah dengan menekankan hubungan antara sektor-sektor yang terdapat dalam perekonomian suatu wilayah, dan kekuatan pendorong yang berasal dari suatu sektor ke sektor lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

A. Analisis Pengganda (Multiplier Analysis)
Dalam tabel input-output, pengganda tidak hanya menjelaskan satu besaran pengganda saja tetapi juga dapat menjelaskan beberapa (sekelompok) besaran pengganda yang dinyatakan dalam matriks pengganda (multiplier matrix). Matriks pengganda dalam tabel input-output menjelaskan perubahan yang terjadi pada berbagai peubah endogen sebagai akibat perubahan pada satu atau beberapa peubah eksogen.
Analisis pengganda dalam tabel input-output digunakan untuk menentukan tingkat ketergantungan dari beberapa sektor ekonomi. Suatu sektor dengan koefisien pengganda yang besar mencerminkan bahwa sektor tersebut mempunyai hubungan yang kuat dengan sektor lain. Selanjutnya, Nazara (1997) menyatakan bahwa ada 3 (tiga) variabel utama yang diperhatikan dalam analisis pengganda, yaitu; (1) pengganda ouput sektor-sektor produksi, (2) pengganda pendapatan rumah tangga (household income), dan (3) pengganda tenaga kerja (employment).
Pengganda berdasarkan waktu dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu pengganda jangka pendek (jenis I) dan pengganda jangka panjang (jenis II). Pada pengganda jenis I, rumah tangga sebagai variabel yang bersifat exogenous, sedangkan pada pengganda jenis II rumah tangga bersifat endogenous.
Pengaruh pengganda permintaan akhir/output, menjelaskan jumlah kebutuhan input langsung dan tidak langsung dari semua sektor untuk menghasilkan atau unit tambahan sektor ke-i yang dipakai untuk menghasilkan satu-satuan output. Pengganda pendapatan merupakan koefisien yang mengindikasikan pengaruh pendapatan yang dapat ditimbulkan oleh suatu sektor permintaan akhir. Sedangkan pengganda tenaga kerja merupakan jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk meningkatkan output per-unit permintaan akhir dari sektor tertentu.
Bagi suatu wilayah, angka pengganda mempunyai arti yang sangat besar. Pengganda ini dapat dijadikan indikasi seberapa besar pengaruh suatu investasi yang dilakukan pada suatu sektor akan mempengaruhi perekonomian pada umumnya, melalui tenaga kerja, pendapatan, dan permintaan akhir/output. Dengan diketahuinya suatu angka pengganda, maka dapat diketahui pula besarnya pengaruh akibat pengembangan suatu sektor.
Kabupaten Jember, dimana sub-sektor perkebunan mempunyai andil besar terhadap perekonomian wilayah tersebut. Untuk itu perlu mengetahui bagaimana pengaruh suatu komoditas apabila dikembangkan dengan menghitung pengganda yang ditimbulkan akibat investasi pada pengembangan komoditas tersebut. Dengan demikian, dampak dari pengembangan suatu komoditas pada suatu wilayah dapat di lihat dari besaran dari ke tiga pengganda tersebut.

B. Analisis Keterkaitan (Linkage Analysis)
Analisis keterkaitan digunakan untuk mengukur kaitan kegiatan ekonomi antar sektor dalam suatu wilayah. Ada 3 (tiga) cara untuk mengukur keterkaitan antar sektor, yaitu; (1) menghitung koefisien keterkaitan ke belakang (backward linkages effect), (2) menghitung koefisien keterkaitan ke depan (forward linkages effect), dan (3) menghitung jumlah transaksi tiap-tiap sektor baik menurut baris maupun kolom (Hulu, 1988).

Koefisien keterkaitan ke belakang menunjukkan bahwa sektor yang memiliki nilai tinggi berarti sektor tersebut sangat penting kedudukannya terutama dalam menyediakan bahan masukan yang diperlukan oleh sektor-sektor terkait kepadanya. Koefisien keterkaitan ke belakang ini ada dua macam, yaitu; keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages effect), dan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang (total backward linkages effect).
Koefisien keterkaitan ke depan menunjukkan bahwa sektor yang memiliki nilai tinggi dapat dinyatakan bahwa sektor tersebut sangat tergantung dengan sektor lain, sebagai peminta bahan masukan. Koefisien keterkaitan ke depan ini ada dua macam, yaitu; keterkaitan langsung ke depan (direct forward linkages effect), dan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan (total forward linkages effect).
Jumlah transaksi Input-Output tiap-tiap sektor dapat digunakan untuk mengukur besarnya keterkaitan sebuah sektor kepada sektor-sektor lainnya. Sektor yang memiliki transaksi yang banyak maka banyak sektor ekonomi yang terkait kepadanya. Ada dua jenis untuk menghitung jumlah transaksi, yaitu menurut baris dan kolom. Hasil jumlah baris menunjukkan banyaknya sektor yang terkait untuk menyediakan bahan masukan (input). Kemudian, hasil jumlah kolom menunjukkan sektor terkait kepada sektor tersebut dalam hubungan kegiatan memperoleh bahan masukan yang berasal dari keluaran sektor-sektor lain.
Pengembangan suatu komoditas pasti akan terkait dengan sektor lain, baik keterkaitan ke belakang maupun ke depan. Dari tinjauan wilayah keterkaitan antar sektor ini sangat penting artinya, dengan melihat keterkaitan antar sektor maka akan dapat diidentifikasi adanya kebocoran wilayah. Pembangunan suatu wilayah melalui pengembangan komoditas tidak akan tercapai manakala dampak dari pengembangan wilayah tersebut tidak bisa ditangkap wilayah tersebut, artinya dampak yang ditimbulkan akibat investasi di suatu wilayah tidak dapat ditangkap oleh wilayah tersebut atau terjadi kebocoran wilayah.

B    Pengertian Tabel Input Output
Tabel Input Output (I-O) adalah suatu uraian statistik dalam bentuk matriks yang menggambarkan transaksi penggunaan barang dan jasa antar berbagai kegiatan ekonomi. Sebagai metode kuantitatif, Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang:
struktur perekonomian wilayah yang rnencakup outoput dan nilal tambah masing-masing sektor,
struktur input antara berupa transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektor sektor produksi,
struktur penyediaan barang dan jasa, baik berupa produksi dalam negeri (produksi Kabupaten Jember), maupun barang impor atau yang berasal dari kabupaten lain,
struktur permintaan barang dan jasa, meliputi permintaan oleh berbagai sektor produksi di Kabupaten Jember dan permintaan untuk konsumsi, investasi dan ekspor keluar Kabupaten Jember.
Dalam penyusunan Tabel Input-Output itu sendiri, bagi pengguna, akan memberikan gambaran tentang seberapa jauh konsistensi antar berbagai data yang digunakan. Oleh karena itu penghayatan tentang proses tersebut bermanfaat untuk menilai mutu keserasian data statistik dan kemungkinannya untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dimasa yang akan datang.

2.3 Kerangka Umum Tabel Input Output
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang Tabel Input Output, berikut ni diperlihatkan-kerangka umumnya.
Tabel 1
Bentuk Umum Tabel Input Output

Alokasi Output

Sektor Input    Permintaan Antara    Per
mintaan
Akhir    Penyediaan

Sektor Produksi
Jumlah
Permintaan
Antara
(-)
Impor    Jumlah
Output

1    j    n.
Input Antara    Sektor Produksi    1    X1i    X1j    X1n    X1    F1    F1    F1
…    …    …    …    …    …    …    …
J    Xij    Xij    Xin    Xi    Fi    Fj    Fj

…    …    …    …    …    …    …    …
…    …        …    …    …    …    …
n    Xni    Xnj    Xnn    Xn    Fn    Fn    Xn
Jumlah input Antara    Xi    Xj    Xn    Xij    F    F    Xi
Input Primer
(Nilai Tambah Bruto)    Vi    Vj    Vn
Jumlah Input    Xi    Xj    Xn
Sumber: Biro Pusat Statistik, 1995.

Pada garis horizontal atau baris, isian-isian angkanya memperlihatkan alokasi penggunaan barang dan jasa yang tersedia sebagian untuk memenuhi permintaan antara (intermediate demand) sebagian lagi dipakai untuk memenuhi permintaan akhir (final demand) yang terdiri dari konsumsi, investasi dan ekspor. Isian angka menurut garis vertikal atau kolom, menunjukkan struktur pemakaian input antara dan input primer (nilai tambah bruto) yang disediakan oleh sektor-sektor lain untuk pelaksanaan kegiatan produksi.
Tabel Input Output secara keseluruhan dibagi dalam tiga bagian, dan disebut sebagai kuadran I, II, dan III. Kuadran terdiri dari kotak-kotak (sel-sel) yang berisi angka-angka transaksi antara yaitu barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Sel adalah tempat pertemuan antara baris dan kolom dalam kerangka Tabel Input Output. Isian sepanjang baris pada kuadran I mempelihatkan alokasi penyediaan suatu sektor yang digunakan oleh sektor lain dan disebut permintaan antara. Isian menurut kolom menunjukkan pemakaian barang dan jasa oleh suatu sektor yang berasal dari sector-sektor lain dan disebut dengan input antara. Transaksi antara ini dinyatakan dengan simbol Xij dalam Tabel 2.1, dan menunjukkan jumlah komoditas i yang dipakai oleh sektor j. Kuadran ini merupakan kuadran input, yaitu perbandingan antara masing-masing input antara dengan output yang mempergunakannya. Demikian juga yang lebih penting lagi adalah matriks kebalikan dari koefisien input tersebut, sangat berguna bagi berbagai analisis dengan analisis dengan menggunakan tabel Input Output.
Kuadran II berisi angka-angka transaksi permintaan akhir yang berasal baik dari output berbagai sektor produksi maupun impor yang dirinci dalam berbagal jenis penggunaan. Dengan kata lain mencatat transakasi menurut sektor sesuai dengan komponen pengeluaran dalam Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Kuadran III berisi penggunaan input primer atau nilai tambah (value added) yang terdiri dari: upah dan gaji, surplus usaha, pajak tak langsung neto dan penyusutan. Penjumlahan seluruh nilai tambah ini akan menghasilkan Produk Domestik Regional Bruto, yang merupakan penjumlahan semua produksi barang dan jasa akhir (netto) di wilayah domestik yang bersangkutan. Selanjutnya PDRB ini akan sama dengan seluruh permintaan akhir dikurangi impor barang dan jasa dari kuadran II.
Dari kerangka tabel Input Output yang disajikan, akan diperoleh persamaanpersamaan berikut. Jika dibaca menurut baris, maka :
Jumlah permintaan = Permintaan Antara + Permintaan akhir
Jumlah permintaan =      (1)
= Penjumlahan ke samping (horizontal) output sektor i yang
teralokasikan penggunaannya ke sektor-sektor j =1, 2, …, n
F1    = Permintaan akhir terhadap output penyediaan sektor  I.

Jumlah penyediaan =Jumlah Output + Inpor
Jumlahpermintaan = Xi + Mi    (2)
Xi     = Output sektor i
Mi     = Impor sektor i
Apabila (1) dan (2) ditulis dalam bentuk persamaan, maka dapat ditulis sebagai berikut:
Xi + Mi =    (3)
Sedangkan jumlah penyediaan = jumlah permintaan, maka
Xi + Mi =    (4)
Kalau dibaca menurut kolom , diperoleh persamaan berikut :
Jumlah input =jumlah input antara + input primer (nilai tambah bruto)
Xi = output sektor i = Xi = input sektor I
(5)
=     penjumlahan vertikal seluruh input antara untuk proses produksi sektor i
Vi    =  nilai tambah bruto sektor j

Untuk menjelaskan hubungan antara persamaan ini dengan pendapatan regional, kita jumlahkan tiap baris yang dinyatakan dengan persamaan (1) sebagai berikut :
(6)
Dengan cara yang sama kita jumlahkan persamaan (5) untuk seluruh kolom:
(7)
Dalam Tabel I-O jumlah Input = jumlah output
(8)
selanjutnya dari persamaan (6) dan (7) diperoleh
(9)
atau,
Jumlah Permintaan – jumlah Impor = Jumlah Nilai Tambah
Perlu dicatat, bahwa persamaan antara jumlah output dan jumlah input berlaku bagi setiap sektor, tapi persamaan antara nilai tambah dan permintaan akhir dikurangi impor tidak berlaku bagi setiap sector, melainkan jumlah keseluruhan sector.  Persamaan (3) dapat disusun kembali menjadi persamaan aljabar sebagai berikut :

a11 X1  + a12X2  + ………………. + a1nXn  +  Y1   =  X1
a21 X2  + a22X2  + ………………. + a2nXn  +  Y2   =  X2
.          .                  .       .       .
.          .                  .       .       .
an1 X1  + an2Xn  + ………………. + annXn  +  Yn   =  Xn , atau  bentuk

matriks;
AX + Y = X     Y= X – AX     Y =  I – A X                     (10)
dinama; I  –  A merupakan matriks Leontief.
Dari persamaan dapat diubah menjadi;

X = I   –   A-1 Y

X    = vektor output
I    = matriks identitas (identity matrix)
A    = matriks koefisien input antara
F    = vektor permintaan akhir
M    = vektor-impor
Selanjutnya, I   –   A-1  merupakan matriks kebalikan Leontief atau disebut juga koefisien arah, yang berperan penting dalam analisis pembangunan suatu wilayah. Koefisien arah tersebut menunjukkan keterkaitan antara tingkat permintaan akhir dengan output yang dihasilkan oleh suatu perekonomian.
Persamaan (10) menunjukan bahwa output (X) merupakan fungsi dari permintaan akhir (F) dan impor (M), dengan koefisien arahnya (I-A)-1. Sel aij pada matriks A tidaak dibedakan apakah input yang dipakai berasal dari Kabupaten Jember atau dari luar kabupaten termasuk impor luar negeri. Apabila transaksi barang dan jasa dapat dibedakan asalnya, maka dapat disusun atau dihitung koefisien khusus untuk input yang berasal dari produk Kabupaten Jember saja (disebut produk domestik). Selanjutnya matriks koefisien input domestik dinotasikan dengan Ad. Apabila Ad dimasukan dalam persamaan (10), maka bentuk persamaan menjadi;
X = (t – Ad)-1 Fd     (11)
Ad     = matriks koefisien input domestik
Fd     = permintaan akhir untuk hioduk domestik
Persamaan matriks yang terakhir ini lebih baik dibandingkan dengan persamaan sebetumnya, sebab impor (M) diperlakukan sebagai variabel luar (exogenous), sehingga perkiraan output dapat diperkirakan lebih mudah tanpa memperkirakan terlebih dahulu peranan impor. Persamaan (11) lebih lanjut dijadikan sebagai kerangka dasar dalam membuat model-model input output.

Tag: , , ,

6 Tanggapan to “analisis input output”

  1. Faizin Kuswoyo Says:

    terima kasih, tulisan sdr menambah perbendaharaan pembahasan analisis I-O yg mungkin msh sedikit di Indonesia ini, padahal manfaat analisis dg tabel I-O cukup komprehensif. teruskan tulis misal manfaat dan penerapannya dalam menganalisis kebijakan makro ekonomi dg tabel I-O moga sukses selalu.

  2. masrobertk Says:

    Sip…sip… Mantab sekali pak. Salam buat Rania, daa (dan adek-adeknya_) hehehe…. Dapat salam juga dari Zyham.
    http://masrobertk.wordpress.com

  3. ALAM BAE Says:

    terima kasih, tulisan bapak bisa menambah penambahan ilmu saya dibidang metode kuantitatif…..
    saya tertarik untuk membuat tesis dengan menggunakan analisis I-O terhadap sektor pertanian, dari hasil analisis tesis saya, saya berharap sektor pertanian lebih di prioritaskan dalam APBD Kabupaten.
    maaf pak,,,,
    bisa saya minta contoh tesis Analisis I-O pada sektor pertanian,,,
    atas perkenan bapak saya ucapkan ribuan terima kasih…..

  4. dewizhara Says:

    saya sedang mengerjakan skripsi tentang I-O pertanian. saya ingin sharing dengan bagaimana cara menghitung angka pengganda output, pendapatan, dan tenaga kerja pada subsektor pertanian? dengan menggunakan program excel.Dan bagaimana cara menghitung tiap sektor, jika kita mengklasifikasikan dari 19 sektor menjadi 9 sektor.
    terimakasih atas bantuannya…

  5. dewizhara Says:

    aslmkm.bapak saya sedang membuat skripsi tentang I-O.saya mau bertanya bagaimana menghitung angka pengganda output,pendapatan, dan tenaga kerja dengan menggunakan komputer? dan bagaimana cara menghitung sektor, jika klasifikasi 19 sektor diubah menjadi 9 sektor?
    terimakasih atas bantuannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: