Pembangunan material dan Spiritual

TUGAS EKONOMI PEMBANGUNAN

Prof. Dr. H. M. Saleh, M.Sc

Nama : JOKO SANTOSO, SE

NIM : 080820201011

 

 

Pada dasarnya tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik secara material maupun spiritual. Coba saudara jelaskan apa maksudnya dan bagaimana kondisi pembangunan yang sedang berjalan berdasarkan tujuan tersebut.

 

 

Jawab.

 

Dalam Tap MPR NOMOR : IV/MPR/1978 disebutkan bahwa Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Daryanto, SS : 1998) arti dari kesejahteraan adalah suatu kondisi atau keadaan yang aman, tenteram, selamat dan tercukupi kesenangan hidup serta makmur. Sedangkan Materiil merupakan sesuatu yang berhubungan dengan benda dan Spiritual yang terkait dengan rohani.

Sehingga kesejahteraan materiil dan spiritual (pendapat) dapat diartikan sebagai kondisi dimana masyarakat merasa aman, tenteram, selamat dan tercukupi semua kebutuhan hidupnya yang berkaitan dengan kebutuhan harta benda yaitu sandang, pangan, papan dan kesenangannya serta kebutuhan yang berhubungan dengan rohani yaitu pendidikan, agama, adat, dan yang terkait dengan masalah spiritual.

 

Salah satu azas Pembangunan Nasional menurut Tap MPR NOMOR : IV/MPR/1978 adalah :

Azas Adil dan Merata, artinya bahwa hasil-hasil materiil dan spiritual yang dicapai dalam pembangunan harus dapat dinikmati merata oleh seluruh Bangsa dan bahwa tiap-tiap Warga Negara berhak menikmati hasil-hasil pembangunan yang layak diperlukan bagi kemanusiaan dan sesuai dengan nilai darma-baktinya yang diberikannya kepada Bangsa dan Negara.

Menurut BAPPENAS dalam Pemerataan Pembangunan dan Penanggulangan Kemiskinan Bab 9 halaman 55 www.bappenas.go.id :

 

Pembangunan yang merata materiil adalah perwujudan Kepu­lauan nusantara sebagai satu kesatuan ekonomi, bahwa kekayaan wilayah Nusantara, baik potensial maupun efektif, adalah modal dan milik bersama bangsa, dan bahwa keperluan hidup sehari-hari harus tersedia merata di seluruh wilayah tanah air. Tingkat per­kembangan ekonomi harus serasi dan seimbang di seluruh daerah, tanpa meninggalkan ciri khas yang dimiliki oleh daerah dalam pengembangan kehidupan ekonomi yang berlandaskan demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila, dan mengandung kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta memi­liki kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi nasional de­ngan daya saing yang tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata.

 

Pembangunan yang merata spiritual adalah pembangunan yang merata bagi masyarakat dalam pengembangan rohani, budaya, dan rasa kesetiakawanan sosialnya, yang tercermin dalam keselarasan hubungan antara manusia dan Tuhannya, antara sesama manusia, serta antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya. Keselarasan hubungan ini dalam pembangunan nasional merupakan perwujudan kesatuan politik dan sosial wilayah Kepulauan Nusantara, bahwa secara psikologis, bangsa Indonesia harus merasa satu, senasib sepenanggungan, sebangsa dan setanah air, serta mempunyai satu tekad untuk mencapai cita-cita bangsa. Masyarakat Indonesia adalah satu, perikehidupan bangsa harus merupakan kehidupan yang serasi dengan terdapatnya tingkat kemajuan masyarakat yang merata dan seimbang, serta ada keselarasan kehidupan yang sesuai dengan tingkat kemajuan bangsa. Rasa keadilan, keamanan, ketenteraman, dan kemajuan dari pembangunan dirasakan merata oleh seluruh rakyat sesuai dengan peran serta dan sumbangannya dalam pembangunan.

 

Dari beberapa keterangan mengenai tujuan pembangunan tersebut apabila dikaitkan dengan kondisi pembangunan yang sedang berjalan memang sebagian besar sudah mengarah pada tujuan tersebut namun tidak lepas dari beberapa tantangan dan kendala antara lain :

 

Menurt Bappenas dalam Pemerataan Pembangunan dan Penanggulangan Kemiskinan Bab 9 halaman 67 – 69 www.bappenas.go.id :

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang satu, tetapi majemuk seperti dilambangkan dalam Bhinneka Tunggal Ika. Kemajemukan ini merupakan kekuatan bangsa, tetapi sekaligus dapat menimbulkan berbagai masalah pula dalam proses pembangunan.

Segolongan masyarakat memiliki peluang ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan golongan lainnya. Kesempatan mendapatkan peluang dalam pembangunan tidak sama, ada golongan yang mendapat peluang lebih baik dibanding dengan yang lain. Dengan intensitas pembangunan yang makin meningkat, kesenjangan tersebut dirasakan makin melebar karena laju pertumbuhan yang berbeda. Kesenjangan antargolongan ekonomi ini apabila berlanjut dapat menghambat terwujudnya penyelenggaraan kehidupan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan yang ditujukan bagi sebesar¬besar kemakmuran rakyat. Berlanjutnya kesenjangan antar golongan ekonomi, yaitu golongan ekonomi yang sangat lemah dan kuat, akan menghambat meningkatnya peran serta, efisiensi, dan produktivitas rakyat yang memadai yang diperlukan dalam pembangunan. Kesenjangan antar golongan ekonomi dan strata pendapatan yang melebar juga akan meningkatkan kecemburuan sosial dan dapat menyebabkan timbulnya gejolak sosial yang pada gilirannya dapat mengancam stabilitas nasional. Dengan demikian, mengurangi kesenjangan antar golongan ekonomi dan strata pendapatan dalam masyarakat sehingga pembangunan dapat berjalan di atas landasan yang kukuh dan terjamin kesinambungan dan pertumbuhannya karena makin merata dan berkeadilan, menjadi tan¬tangan pula.

 

Perkembangan ekonomi antar daerah memperlihatkan bahwa daerah di Pulau Jawa pada umumnya telah mengalami perkem¬bangan ekonomi yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan daerah di luar Jawa. Kondisi ekonomi antardaerah di kawasan barat Indonesia pada umumnya juga berbeda dengan yang ada di kawasan timur Indonesia. Demikian pula, kondisi ekonomi perkotaan berbeda jauh dengan kondisi ekonomi perdesaan. Selanjutnya, ada daerah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia yang tertinggal dibanding daerah lain, yaitu daerah terpencil, daerah minus, daerah kritis, daerah perbatasan, dan daerah terbelakang lainnya. Pembangunan ekonomi yang telah menghasilkan pertum¬buhan yang tinggi selama ini belum dapat sepenuhnya mengatasi permasalahan kesenjangan antar daerah tersebut.

 

Perbedaan laju pembangunan antar daerah menyebabkan terjadinya kesenjangan kemakmuran dan kemajuan antar daerah, terutama antara Jawa dan luar Jawa, antara kawasan barat Indonesia dan kawasan timur Indonesia, dan antara daerah perkotaan dan daerah perdesaan.

 

Todaro (2000) menyatakan, tantangan utama pembangunan adalah memperbaiki kualitas kehidupan. Kualitas hidup yang lebih baik memang mensyaratkan adanya pendapatan lebih tinggi, namun yang dibutuhkan bukan hanya itu. Pendapatan yang lebih tinggi itu hanya merupakan salah satu dari sekian banyak syarat yang harus dipenuhi. Banyak hal lain yang tidak kalah pentingnya juga harus diperjuangkan, yakni pendidikan yang lebih baik, peningkatan standar nutrisi (pangan), kesehatan, penanggulangan kemiskinan dan pemerataan kesempatan kerja. Lebih lanjut ia katakan pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial.

 

Jadi, pada hakekatnya pembangunan itu harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan, tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok-kelompok sosial yang ada di dalamnya, untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik secara materil maupun spiritual.

 

Tolok ukur paling mudah dalam mengukur tingkat keberhasilan pembangunan adalah dengan melihat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yang dan semakin kecilnya angka kemiskinan dan pengangguran.

 

Jakarta (ANTARA News) www.antara.go.id Menko Perekonomian Boediono menyatakan optimis bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2008 akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah dalam APBN Perubahan 2007 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 %, sedangkan dalam APBN 2008 sebesar 6,8 %.

Menurut Boediono, dampak dari pertumbuhan ekonomi yang lebih baik akan diikuti dengan penurunan angka kemiskinan.

Angka kemiskinan terakhir memang turun menjadi sekitar 16 persen, dan tahun depan diharapkan turun lagi menjadi 15 persen.

Menurut dia, faktor utama penyebab penurunan angka kemiskinan adalah harga bahan pokok yang relatif stabil.

 

Namun demikian keberhasilan pembangunan dibidang spiritual akhir-akhir ini justru menurun dengan semakin banyaknya kasus kejahatan, tindakan yang tidak bermoral serta budaya masyarakat yang mulai bergeser dari adat ketimuran mengaarah pada kebarat-baratan.

Hal tersebut juga sebagai akibat dari tekanan masalaah ekonomi sehingga memaksa mereka untuk melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Sebaliknya bagi mereka yang tingkatan ekonominya termasuk golongan kelas atas ada sebagian yang memanfaatkan kelebihan uangnya untuk hal-hal yang negatif, karena mental dan spiritual mereka yang kurang terbangun.

 

Dengan demikian keberhasilan pembangunaan tidak hanya terlihat dari keberhasilan secara materiil saja melainkan juga pembangunan spiritual perlu mendapat perhatian khusus agar keberhasilan dan pemerataan pembangunan secara menyeluruh dapat tecapai.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: