Teori Dependensia

MAHASISWA : AGUS WINARNO

DOSEN : Prof. Dr. H. M. Saleh, M.Sc

<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–> Salah satu asumsi yang dikemukakan Andre Gunder Frank dalam teori dependensia adalah adanya interaksi Metropolis akan berkembang cepat sedang sateli semakin terbelakang. Apakah saudara sependapat dengan asumsi tersebut dan bagaimana kondisi yang ada diindonesia. jelaskan

Jawaban :

 

Landasan Teori Andre Gunder Frank

Ruccio dan Simon mengatakan bahwa karya-karya Frank lahir sebagai reaksi terhadap teori-teori Neoklasik Ortodoks dan pandangan Marxis Ortodoks tradisional. Pandangan frank sendiri dipengaruhi oleh teori strukturalis Paul Prebisch dan pandangan Neo-Marxis Paul Baran. Pada hakikatnya konfigurasi teoritis ekonomi pembangunan dalam teori dependensia berada di satu titik garis kontinum antara teori strukturalis ortodog dengan Marxisme.

 

Teori dependensia sesuai dengan namanya berusahamenjelaskan tentang ketergantungan. Dalam hubungan ketergantungan tersebut ada dua pihak yang terlibat yaitu pihak dominan dan pihak bergantung (dependen). Frank mengelompokkan negara-negara didunia ini atas dua kelompok yaitu negara metroplis maju dan negara-negara satelit yang terbelakang.Hubungan ketergantungan seperti ini disebut Frank sebagai Metropolis-satelite relationsip.

 

Sementara fokus hubungan ketergantungan dalam model Frank adalah bangsa-bangsa dan hubungan antar bangsa-bangsa, ruang lingkup teorinya adalah sistem kapitalis dunia. Dalam model yang dikembangkan Frank, tiap titik dalam rantai metropolis-satelit, struktur rantai menciptakan kepentingan objektiftertentu, dan yang paling penting adalah kepentingan dalam mengontrol hubungan monopoli pada tiap titikdi rantai hubungan tersebut demi memperoleh manfaat dari extractive power yang ada pada posisi tersebut.

 

Menurut Frank keterbelakangan dinegara-negara dunia ketiga hanya bisa dipahami dengan mengetahui kondisi awal, khuluk dan perkembangan dari kapitalisme.

 

Menuruf Farank hubungan ketergantungan umumnya, dan hubungan metropis – satelit dalam suatu sistem kapitalisme dunia kususnya, dicirikan oleh sifat monopolistik dan ekstraktif. Metropolis memiliki kontrol monopolistik atas hubungan ekonomi dan perdagangan di negara-negara satelit. Dominasi monopolistik dalam suatu pasar jelas merupakan sebuah posisi kekuasaan. Posisi kekuasaan ini memungkinkan negara-negara metropolis mengeruk surplus ekonomi dari negara-negara satelit. Sebagai dampak dari dominasi metropolis tersebut, negara-negara satelit tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol pertumbuhan ekonomi sendiri, melainkan tetap tergantung pada metropolis. Menurut Frank, hubungan monopolistik dan ekstraktif pada awalnya dibentuk melaui kekuatan senjata, dan setelah itu dilanjutkan melalui struktur ketergantungan dan keterbelakangan.

 

Sehubungan dengan pola hubungan antara negara –negara metropolis maju dan negara-negara satelit yang terbelakang, Andre Gunder Frank membuat hipotesis:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Dalam stuktur hubungan antara negara-negara metropolis maju dengan negara-negara satelit yang terbelakang, pihak metropolis akan berkembang dengan pesat sedangkan pihak satelit akan tetap dalam posisi keterbelakangan.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Negara-negara miskin yang sekarang menjadi negara satelit, perekonomiannya dapay berkembang dan mampu mengembangkan industri yang otonom bila tidak terkait dengan metropolis dari kapitalis dunia, atau kaitannya sangat lemah.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang dan berada dalam situasi yang mirip dengan situasi dalam sistem feodal adalah kawasan-kawasan yang pada masa lalu memiliki kaitan yang kuat dengan metropolis dari sistem kapitalis internasional. Kawasan-Kawasan ini adalah kawasan penghasil ekspor bahan mentah primer yang terlantar akibat adanya hubungan perdagangan internasional.

 

Bagi Frank proses pembangunan adalah proses pembangunan kapitalis, dan sejarah pembangunan adalah sejarah pembangunan kapitalis. Anggapan remeh terhadap sejarah negara-negarayang terbelakang membuat kita mengasumsikan bahwa sejarah masa lalu dan masa kini dari negara-negara tersebut menyerupai tahap-tahap awal sejarah negara-negara maju.

 

Adanya hubungan ketergantungan yang sifatnya asimetris ditunjukkan oleh hubungan antara pihak-pihak yang tidak seimbang, disebabkan karena pembangunan-pembangunan daerah satelit tergantung pada pembangunan metropolisHubungan yang timpang dan tidak seimbang ini juga disebabkan karena negara-negara metropolis memiliki kekuasaan atas jalannya pembangunan di daerah-daerah satelit dan bukan sebaliknya. Kunci hubungan ketergantungan dengan demikian adalah Kontrol. Tegasnya metropolis memiliki kekuasaanlebih besar karena dapat megontrol hubungan dengan satelit.

 

Bagi frank hubungan ketergantungan adalah hubungan eksploitatif dimana negara-negara metropolis menghisap negara-negara satelit.Akibatnya metropolis akan semakin maju sedangkan negara-negara satelit akan tetap dalam posisi keterbelakangan tertinggal dan tidak berkembang.

 

Tidak sependapat

Karena Negara – negara metropolis dan satelit dapat secara bersamaan berkembangan dengan asumsi bahwa teori yang disampaikan frank tentang proses pembangunan adalah proses pembangunan kapitalis sedikit dirubah yaitu dengan adanya kebijakan pemerintah tentang pembangunan ekonomi dalam negeri dengan memberikan banyak kesempatan serta kemudahan-kemudahan bagi pengusaha dalam negeri untuk melakkan transaksi pasar baik dalam negeri maupun luar negeri, serta memberikan sedikit ketentuan untuk negara metroplis yang dengan tingkat capitalnya sudah sangat mapan untuk memberikan peluang bagi negara satelit untuk berkembang. Perlunya kontrol yang berkesinambungan sehingga akan terjadi keseimbangan antara negara metropolis dan negara satelit.

 

Kondisi Indonesia

Indonesia adalah negara berkembang/negara pinggiran/satelit yang akan menuju mnjadi negara (metropolis) dan ini sangat perlu diperhatikan dan selalu diawasi oleh pemerintah dengan kebijakan pasar serta ekonomi yang sangat ketat, karena negara indonesia fundamental perekonomian serta keuangannya masih sangat labil sehingga peru suatu kebijakan untuk melindungi kegiatan pasar.

 

Frank pernah menyampaikan bahwa :

alasan dari kegagalan negara pinggiran untuk maju seiring dengan negara sentral. Kegagalan ini disebabkan oleh adanya eksploitasi dan sistem ekonomi kapitalisme yang dilakukan oleh negara sentral. Santos mengamsusikan bahwa bentuk dasar ekonomi dunia memiliki aturan-aturan perkembangannya sendiri, tipe hubungan ekonomi yang dominan di negara sentral adalah kapitalisme sehingga menyebabkan timbulnya saha melakukan ekspansi keluar dan tipe hubungan ekonomi pada negara pinggiran merupakan bentuk ketergantungan yang dihasilkan oleh ekspansi kapitalisme oleh negara sentral. Teori dependensi menjelaskan bagaimana timbulnya kapitalisme yang dapat menguasai sistem ekonomi dunia. Keterbatasan sumber daya pada negara maju mendorong mereka untuk melakukan ekspansi besar-besaran pada negara miskin. Pola yang dilakukan memberikan dampak negatif berupa adanya ketergantungan yang dialami oleh negara miskin. Negara miskin akan selalu menjadi negara yang terbelakang dalam pembangunan karena tidak dapat mandiri serta selalu tergantung dengan negara maju

 

Dasar-Dasar :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Ekonomi politik dan Radikal Strukturalisme dan Dependensiasi

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Kemandirian Lokal

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Pemikiran Polotik Barat

Tag: , , ,

2 Tanggapan to “Teori Dependensia”

  1. kirimkeaku@gmail.com Says:

    agak setuju dengan relasi monopoli negara-negara metropolis

    1. pola hubungan antara negara metropolis dan satelit memang dominatif. Sebagaimana disebutkan oleh frank bahwa dominasi terutama dalam ekonomi dan perdagangan. Ekploitasi yang terjadi adalah dibidang ekonomi dan perdagangan.

    tanpa mengurangi rasa hormat saya hendak menanggapi jawaban kawan agus.

    Posisi Indonesia saat ini adalah seperti yang digambarkan pada hipotesa ketiga Frank : negara pengekspor bahan mentah keluar negeri : tambang, gas, minyak bumi, bahan baku industri (tekstile), bahan mentah sumber daya alam : kayu, hasil produksi pertanian. Hayo sebutkan ada barang jadi yang kita ekspor? kejadian ini menimbulkan beberapa hal
    1. ketersediaan energi dan bahan baku di Indonesia
    2. tidak berkembangnya kemampuan mengolah bahan baku energi dan bahan baku industri
    3. ketergantungan dari pasar ekspor.

    menanggapi bahwa baik negara-metropolis dan negara satelit bisa saling berkembang, jangan lupa bahwa segala sistem ekonomi dan perdagangan saat ini terintegrasi dalam satu institusi atau satu sistem kapitalisme. jadi tidak mungkin menilai dengan melepaskan konteks kapitalisme tersebut. Bagaimana bisa berkembang jika terjadi liberalisasi di pasar dalam negeri? bagaimana bisa berkembang andaikata pemerintah memenuhi aturan WTO yang mengharuskan mengimpor bahan jadi dan mengekspor bahan mentah, pajak tinggi untuk ekspor sementara harus menghapuskan pajak untuk serbuan ekspor barang jadi luar negeri?

    Sepakat bisa berkembang, tapi tidak cukup dengan asumsi penguatan pasar? pasar yang mana? kalau jawabannya bisa tegas pasar industri dalam negeri, ekspansi pasar sebagai prioritas selanjutnya.

    dependensia – dalam konteks, sistem globalisasi yang diadopsi oleh seluruh dunia saat ini. yang terjadi justru ketergantungan negara-negara metropolis terhadap negara-negara satelit. ketergantungan tersebut dalam hal sumber daya alam, energi dan pasar untuk ekspansi pasar
    mereka

    Salam
    Katarina

  2. coffee bags wholesale Says:

    Powerful post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: